VIP vs Jelata

directory-230724_960_720 edit

Apa yang muncul dipikiran Anda jika tiba-tiba membaca atau mendengar kalimat ” Very Important Person” a.k.a VIP ?
dan apa juga yang muncul dipikiran Anda jika membaca atau mendengar kalimat  “rakyat jelata” ?
Kalau pertanyaan itu ditanyakan balik ke saya , maka pertanyaan balik yang muncul di kepala saya adalah “memang apa bedanya?
dan kenapa harus dibedakan ?

Menurut penglihatan batin saya (keren kan … ceritanya pake six sense)  :D, praktek yang dilakukan manusia mengkategorikan sesama manusia berdasarkan level tertentu, kriteria tertentu, sepertinya sudah dilakukan sejak zaman prasejarah sampai dengan zaman udah 4G begini – dengan berbagai bentuk pengkategorian. Kenapa bisa bertahan lama ya ? Jawaban sederhananya ” ya mungkin karena manusianya sendiri masih suka melestarikan hal yang seperti itu”

 

Kalau ditanya lagi, boleh gak sih sebenarnya membeda-bedakan orang? jawaban versi saya (yang gak bermaksud menyaingi Fatwa MUI), bisa beda-beda tergantung kasusnya, dan siapa yang memberlakukan pembedaan tersebt. Kalau Saya mengklasifikasikan nya sebagai berikut:
1. Sok-Sok an 

Kriteria ini yang paling bikin kesel dan sebel, dan yang ingin paling saya soroti. Ada orang dengan “sok-sok an ” membedakan orang lain padahal harusnya hak nya sama, kewajibannya sama. Contoh: anda lagi antri, trus ujug-ujug ada orang yang datang diakhir nyerobot antrian di depan dan bilang “gue pejabat , saya mesti diprioritaskan “…. WHAT ?$@#*. Kalau saya yang jadi orang diserobot antriannya, yang ada saya nanya balik ke orang itu “MAU PILIH DIKEPLAK PAKAI APA, SANDAL SAYA? ATAU TAS SAYA ? ” … Amit-amit dah kalau ketemu dengan orang yang seperti itu…

Contoh sok-sok an lainnya, buanyaak sekali dan beragam .. bisa itu karena fisik, jabatan,harta yang “merasa” dimiliki, keturunan dan lain-lain. Saya biasanya geleng-geleng kepala kalau lihat di depan mata ada kejadian praktek diskriminasi orang yang masuk kategori sok-sok an. Kadang pengen bilang ke orang pelakunya “sampai dimana sih yang kamu punya buat dijadiin modal sok-sok an ? ”

 

2. Wajar

Pasti kita sering dengar “WHAT YOU PAY IS WHAT YOU GET”. Anda bayar lebih, untuk dapatkan layanan lebih. Menurut saya itu wajar, sesuai dengan effort yang sudah dikeluarkan. Saya bayar harga tiket lebih mahal  dan saya mendapat layanan tempat duduk di kereta lebih nyaman, ber AC, diberi makan dll, menurut saya itu sah-sah saja .

 

3. Absolut a.k.a Mutlak
Kabar baiknya, Sang Pencipta Manusia sendiri gak membedakan manusia yang diciptakan Nya berdasarkan fisik, harta, keturunan, jabatan. Manusia dibedakan berdasarkan tingkat ketakwaanya. Di  mata Allah, yang “sok ” cantik sama derajatnya dengan yang ngerasa biasa-biasa aja . Yang berasal dari keturunan raja juga sama derajatnya  dengan yang lahir dari kalangan rakyat jelata. Yang punya harta segunung juga sama derajatnya dengan yang punya harta receh.

Menurut saya, standar ini yang mutlak boleh diberlakukan. Gak bakalan ada kejadian di poin 1 kalau orang-orangnya mengacu pada standar ini.

Semoga saya, anda dan kita semua gak pernah jadi pelaku untuk kasus yang masuk kriteria sok-sok an ya (baik sadar/tidak sadar). Amiin ^_^

 

 

referensi gambar: https://pixabay.com/en/directory-signposts-shield-note-230724/

Leave a Reply